Thursday, March 7, 2013

Indonesia Butuh Pemimpi(n)


Pemimpi dan pemimpin. Dua kata yang sekilas hampir sama (karena penambahan huruf n pada pemimpin) namun secara harfiah sangat berbeda. Pemimpin menurut Collins (2003) adalah seseorang yang dapat menginspirasi orang lain sementara pemimpi adalah seorang yang memiliki kebiasaan bermimpi. Banyak orang bahkan berkata bahwa pemimpin biasanya menjadi pahlawan, sedangkan pemimpi cenderung menjadi pecundang. Namun hanya sedikit orang yang berkata bahwa pemimpi adalah elemen penggerak, suatu roda gigi yang melengkapi sebuah motor. Melalui kedua pendapat ini, pertanyaan-pertanyaan dapat timbul. Apakah seorang pemimpi selamanya menjadi pecundang? Apakah sang pemimpi harus merelakan semua mimpi-mimpi indahnya untuk masa depan yang katanya lebih cerah?
Sebelum membahas pentingnya seorang pemimpi bagi masa depan, mari beralih ke sebuah contoh yang sangat familiar belakangan ini. Apakah Anda mengetahui siapa Steve Jobs? Ia adalah pemimpin resmi perusahaan Apple sejak tahun 2000. Ia pernah didepak oleh direksi perusahaan Apple sebelumnya karena perbedaan ide. Walaupun didepak secara sepihak, ia tidak menyerah karena mimpinya adalah membuat sebuah komputer yang dapat dibawa kemana saja dan hanya perlu 20 menit untuk mempelajarinya. Bayangkan, ia memimpikan hal yang terbilang sangat mustahil di zamannya – sebuah tablet PC. Kini, banyak pendapat orang yang berkata bahwa mimpi Steve Jobs adalah tidak mungkin telah terpatahkan. Dari sebuah mimpi, ia telah menciptakan berbagai gadget yang telah merubah hidup banyak orang.
Steve Jobs telah menjadi contoh yang baik, bahwa seorang pemimpi bukanlah seorang pecundang. Seorang pemimpi dapat memimpin masa depan banyak orang. Hal yang membedakan Steve Jobs sebagai seorang pemimpi dengan pemimpi lainnya adalah ia memiliki mimpi yang jelas. Dengan memiliki mimpi yang jelas disertai dengan jalan menuju terwujudnya mimpi tersebut, sebuah mimpi sangat mungkin terwujud. Keinginan (desire) yang kuat juga dapat mempercepat terwujudnya mimpi seseorang. Dan yang terakhir, hati yang ikhlas untuk mewujudkan mimpi seorang pemimpi adalah yang paling penting. Steve Jobs menjelaskan hal terakhir dengan suatu kalimat yang berbunyi: The only way to do great work is to love what you do – satu-satunya cara untuk melakukan sesuatu yang besar adalah dengan mencintai apapun yang kamu lakukan.

No comments: