Part I - Introduction to IPB
Saya diperkenalkan ibu dengan IPB sejak lama, seingat saya ketika saya masih kindergarten, masih imut-imut gitu. Saya dan adik diajak ibu ke IPB. Saat itu, ibu kuliah di jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fakultas Teknologi Pertanian. Gedungnya masih tetap sama, di Fakultas Teknologi Pertanian sekarang, namun suhu udara di situ jauh lebih dingin. Pagi hari masih diselimuti kabut tebal sampai kira-kira jam 10. Pohon-pohonnya juga masih sangat banyak saat itu. Perbedaan lain adalah, selain udaranya, saya mengira gedungnya masih jauh lebih besar daripada sekarang...![]() |
| Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor |
Besoknya sampai seterusnya ibu selalu mengajak kami ke IPB. Ibu kuliah dari pagi sampai menjelang siang. Selama itu, saya dan adik diasuh oleh seorang bibi. Kami diajak jalan-jalan mengelilingi IPB, dan kalau sudah merasa capai ia biasanya membelikan kami es krim sesuai yang dipesankan ibu. Tak jarang juga bibi mengajak kami mondar-mandir di sekeliling kelas ibu. Kami senang sekali karena IPB luas dan banyak tempat sembunyinya!
Kalau bibi terlalu capai, sambil menunggu ibu menyelesaikan kuliah, kami pernah memanjat pagar-pagar pembatas di lantai 2 (bayangkan saja paniknya ibu ketika melihat kami berdua hampir jatuh!). Selain itu, kami pernah masuk ke salah satu ruangan yang banyak kacanya. Ruangan itu berisi banyak gelas yang bentuknya aneh-aneh. Saya bertanya-tanya ketika itu, bagaimana caranya minum dari situ yah? Memegangnya saja sudah sulit karena sempit sekali! (sekarang saya tahu, gelas itu bernama tabung reaksi).
Tak berapa lama kami pindah ke Kalimantan Selatan, mengikuti bapak pindah kerja. Setelah kami pindah ke Kalimantan Selatan saya berpikir, sepertinya enak sekali sekolah di IPB. Suhu udara di Kalsel tinggi, dengan kelembapan yang tinggi namun dengan pasokan air bersih yang minim. Niat itu selalu saya pelihara, sampai suatu ketika seseorang yang memberikan niat itu pergi. Ya, ibu tersayang kami - aku, adik, dan bapak - meninggal karena sakit.
Saya akan melanjutkan mimpi ibu di IPB, sebagai ahli gizi. Saya berniat mencari tahu penyakit ibu, dan cara mencegahnya lewat gizi. Saya akan berhasil, saya janji pada diri sendiri.
lamunan ini muncul di Direktorat Tingkat Persiapan Bersama, Institut Pertanian Bogor, Dramaga, Indonesia.
(to be continued, part II - road to IPB)

No comments:
Post a Comment